Teratai, Sejarah, dan Adab: Polemik Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang

SUMATERA SELATAN282 Dilihat

PALEMBANG – Di jantung Kota Palembang, Bundaran Air Mancur selama puluhan tahun berdiri sebagai penanda ruang, sejarah, dan ingatan kolektif warga kota. Ia bukan sekadar simpang lalu lintas, melainkan simbol perjalanan peradaban Palembang dari masa ke masa.

Namun, ketika wajah Bundaran Air Mancur diperbarui lewat program revitalisasi, keindahan yang diharapkan justru melahirkan pertanyaan. Di balik gemerlap lampu dan ornamen baru, muncul polemik yang menyentuh wilayah paling sensitif: sejarah, estetika, dan adab keagamaan.

Itulah yang mengemuka dalam audiensi Lembaga Kajian Pembangunan Sumatera Selatan (LKPSS) dengan Ketua DPRD Kota Palembang Ali Subri dan Ketua Komisi II DPRD Kota Palembang Ilyas Hasbullah, Selasa (3/2/2026).

Simbol yang Mengundang Tafsir
Ketua LKPSS, Dr Ir H Rahidin H Anang, MS, membuka percakapan dengan nada yang tenang, namun sarat kegelisahan.

Menurutnya, revitalisasi Bundaran Air Mancur sejak awal telah menuai kritik dan masukan masyarakat. Namun, aspirasi itu seolah menguap tanpa tindak lanjut yang jelas.

“Bundaran Air Mancur bukan hanya soal desain. Ia menyangkut sejarah, identitas, dan rasa hormat terhadap simbol-simbol yang sakral,” ujar Rahidin.

Sorotan utama LKPSS tertuju pada penempatan lafaz Nabi Muhammad SAW di atas ornamen bunga teratai.

Bagi Rahidin, persoalan ini bukan semata soal estetika, tetapi menyangkut adab dan sensitivitas simbol keagamaan.

“Ternyata DPRD Palembang sendiri tidak mengetahui adanya lafaz Nabi Muhammad di atas ornamen itu. Ini harus ditelusuri, siapa yang merancang dan siapa yang memberi persetujuan.

Jangan sampai simbol yang sakral ditempatkan secara keliru,” tegasnya.
“Kecelakaan Sejarah”

Nada kritik semakin tajam ketika Prof. Zuber, anggota LKPSS sekaligus Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), memaparkan analisisnya.

Ia menyebut revitalisasi Bundaran Air Mancur berpotensi menimbulkan “kecelakaan sejarah”.

“Bundaran Air Mancur adalah titik nol Kota Palembang. Tetapi yang terjadi justru perubahan makna simbolik,” katanya.

Dalam kajian LKPSS, bunga yang dahulu merepresentasikan cempaka Telok kini berubah menjadi teratai—simbol yang dalam tradisi Sriwijaya identik dengan kesucian dan budaya Buddha.

Masalahnya, di atas simbol teratai itu justru ditempatkan lafaz Nabi Muhammad SAW.

“Ini sangat sensitif. Secara historis dan kultural, penempatan itu tidak selaras dengan konteks Palembang Darussalam,” ujar Prof. Zuber.

Ia juga menyoroti konsep air mancur menari dengan permainan cahaya warna-warni yang dinilai kurang selaras dengan suasana kawasan Masjid Agung Palembang.

“Masjid membutuhkan suasana khusyuk, bukan nuansa hiburan,” tambahnya.

DPRD: Kami Tidak Dilibatkan
Di hadapan LKPSS, Ketua DPRD Kota Palembang Ali Subri mengaku baru mengetahui persoalan tersebut melalui audiensi.

“Kami bersyukur mendapat informasi ini. Terus terang, saya tidak tahu bahwa ada ornamen teratai dan tulisan Nabi Muhammad dalam desain Bundaran Air Mancur,” katanya.

Ali Subri menjelaskan bahwa revitalisasi Bundaran Air Mancur menggunakan dana bantuan gubernur dan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

“DPRD Kota Palembang tidak dilibatkan dalam perencanaan maupun desainnya,” ujarnya.

Pernyataan senada disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kota Palembang Ilyas Hasbullah.

Ia mengapresiasi masukan LKPSS sekaligus menegaskan bahwa penempatan simbol keagamaan di ruang publik perlu kehati-hatian.

“Nabi Muhammad SAW itu mulia. Tidak pantas jika lafaz beliau ditempatkan di atas air mancur. Tempatnya di masjid atau musala,” tegasnya.

Menurut Ilyas, Bundaran Air Mancur adalah ruang publik yang menjadi milik semua warga, lintas agama dan latar belakang.

“Kalau mau menampilkan identitas Palembang, cukup budaya dan kearifan lokal. Songket, jumputan, pempek—itu lebih merepresentasikan Palembang,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa DPRD Kota Palembang tidak mengetahui detail anggaran revitalisasi karena menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Ruang Publik dan Makna Simbol
Polemik Bundaran Air Mancur Palembang akhirnya bukan sekadar soal desain arsitektur. Ia menjadi cermin tentang bagaimana ruang publik dipahami, bagaimana sejarah ditafsirkan, dan bagaimana simbol-simbol sakral ditempatkan dengan adab.

Di tengah arus modernisasi kota, Bundaran Air Mancur kini bukan hanya titik temu kendaraan, tetapi juga titik temu perdebatan: antara estetika dan sejarah, antara kreativitas dan sensitivitas, antara pembangunan dan kearifan.
Dan di sanalah Palembang sedang belajar—bahwa membangun kota tidak hanya soal beton dan lampu, tetapi juga tentang makna, rasa, dan ingatan kolektif yang tak boleh diabaikan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *