LAMPUNG BARAT-Kawanan gajah merusak lahan kebun pisang milik warga Pekon Sukamarga, Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat (Lambar).
Camat Suoh, Mandala mengatakan, kawanan gajah masuk kepemukiman dan merusak kebun pisang milik warga, Selasa (03/05/2022). Jarak antara posisi gajah dengan pemukiman warga kurang lebih 800 meter.
“Masyarakat bersama Satgas penanganan gajah, terus berupaya memblokade kawanan gajah tersebut agar tidak masuk ke pemukiman warga, sebab jarak ke dusun terdekat yaitu dusun Cibitung Pekon Sukamarga hanya sejauh 800 meter, sehingga terus berupaya menggiring kawanan gajah masuk kembali ke hutan,” ujarnya, Rabu (04/05/2022).
Mandala mengatakan, kebun pisang yang dirusak kawanan gajah tersebut yaitu milik, Sulaiman seluas 2 hektare, Halim 0,5 hektare, Emed 0,5 hektare, dan milik Udin seluas 1 hektare, serta beberapa kebun lain milik warga yang berada berdekatan dengan lahan milik empat warga tersebut.
“Ada sebanyak 18 ekor kawanan gajah liar yang masuk ke lahan kebun milik warga tersebut, dan semua tidak ada yang tersisa semua rata di obrak abrik oleh kawanan gajah liar itu, dan hingga saat ini kita masih berjaga di sekitaran lokasi untuk mengantisipasi kawanan gajah tersebut agar tidak mendekat ke pemukiman,” imbuhnya.
Konflik kawanan gajah dan manusia di Kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh memang sudah lama terjadi. Bahkan, Pemkab Lambar telah berkoordinasi dengan Kementerian terkait penyelesaian permasalahan konflik tersebut namun hingga kini masih belum bisa menemukan jalan keluar.
Kawanan gajah tersebut, terus menjadi momok yang menakutkan bagi warga setempat. Sebab bukan hanya kebun milik warga tetapi rumah, serta bangunan lain sering menjadi sasaran amukan hewan bertubuh besar tersebut.
Berbagai cara telah dilakukan oleh masyarakat, Pemkab, serta pihak terkait lain nya untuk menggiring kawanan gajah tersebut agar tidak kembali masuk pemukiman, tapi mungkin karena ketersediaan makanan di habitat aslinya sudah menipis yang menyebabkan kawanan gajah tersebut terpaksa turun gunung untuk mencari makanan agart tetap bertahan hidup.
Salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengatakan perlu ada tindakan yang cepat dan tepat yang dilakukan oleh pihak terkait, agar permasalahan antara manusia dan gajah tidak terjadi secara berkepanjangan. Karena bukan tidak mungkin banyak masyarakat yang merasa was-was dsn takut untuk melakukan aktivitas dikebun.
“Hal tersebut akan berdampak pada perekonomian masyarakat yang mayoritas pekerjaan nya adalah berkebun, sehinggga kita tentu berharap permasalahan ini bisa menjadi PR yang serius bagi Pemerintah untuk segera di selesaikan,” pungkasnya. (Riyan)






