Pengerjaan DAK Infrastruktur Bidang Sanitasi Lambar Diduga Bermasalah

DAERAH, LAMPUNG BARAT700 Dilihat

LAMPUNG BARAT – Pengalokasian anggaran negara oleh pemerintah melalui program/kegiatan Dana Alokasi Khusus (DAK) infrastruktur bidang sanitasi yang bertujuan untuk penyehatan lingkungan dengan penataan air buangan dari aktifitas rumah tangga (limbah domestik) di Lampung Barat (Lambar) diduga bermasalah.

Meskipun kegiatan DAK bidang sanitasi tahun anggaran 2022 dinyatakan pihak tertentu telah selesai pada Desember lalu, namun masih menyisakan banyak pertanyaan publik karena adanya kejanggalan yang sangat berpotensi merugikan keuangan negara dengan tujuan mengeruk keuntungan untuk kepentingan pihak tertentu.

Kejanggalan – kejanggalan yang mengemuka dan menjadi perbincangan publik terjadi pada tekhnis pelaksanaan yang berpengaruh pada hasil pekerjaan dan pada prosedur penetapan kelompok swadaya masyarakat. Kejanggalan lain nampak hangat menjadi materi perbincangan pada sistem pengadaan barang hingga proses pembayaran dan pelaporan progres pekerjaan.

Hasil penelusuran wartawan Inisiator (6-7/01/2023) ditiga pekon (Desa) penerima kegiatan DAK bidang Sanitasi yang ada  Kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh (BNS).

Pertama di Pekon Gunung Ratu, Kecamatan BNS, ditemukan hasil pekerjaan septik tank konvensional berukuran panjang 2 x 1,5 meter, disertai kedalaman lebih kurang 1,5 meter dan ditutup dengan cor beton setebal 20 cm.

Mirisnya lagi septic tank konvensional yang dibangun dengan uang negara tersebut belum dapat dimanfaatkan oleh warga karena ada sumber air yang hampir memenuhi permukaan septik tank bahkan belum ada instalasi pipa ke septi tank.”Septi tanknya belum bisa dipakai karena airnya hampir penuh dan pipanya belum ada, ” kata Mbah Wagiman.

Selain Mbah Wagiman, penerima manfaat lain dipekon yang sama, Misran mengatakan, meskipun dirinya sudah dikirim pipa untuk instalasi septi tank, namun masih belum bisa dimanfaatkan karena selain pipanya belum terpasang, septi tank konvensional yang ada dikediamannya hampir penuh dengan genangan air.

“Untuk pipanya sudah dikirim dan sudah kami terima, tapi belum dipasang karena di dalam septi tank ada sumber air, hampir semua septi tank disini ada sumber airnya,” ungkap misran.

Ditanya mengapa tidak menggunakan Bio septi tank agar tidak tergenang air Misran mengaku tidak tau. “Kami hanya menerima saja pak kami tidak tau yang semestinya seperti apa, ” ujar Misran.

Terkait tekhnis pelaksanaan saat pembuatan septi tank miliknya, secara rinci, Misran mengaku mengerjakannya sendiri dengan upah borongan 300 ribu, untuk matrial berupa pipa, semen, bata dan besi, diantar kerumah masing masing, sedangkan pasir kami diarahkan ambil ditempat yang telah ditentukan sesuai kebutuhan.

”Matrial kami terima dirumah berupa pipa 1 batang panjang lebih kurang 3 meter, bata 500, semen 5 sak, besi 10″ 2 batang, besi 8” 1 batang, pasir secukup nya dan upah 300 ribu, sesuai arahan itulah yang diterima dan yang dipasang, ” jelas Misran, Sabtu (07/01/2023)

Peratin Gunung Ratu, Hilman dan Ketua KSM saat akan dikonfirmasi, sedang tidak dikediamannya, namun Hilman menjelaska  melalui Whats App, bahwa TP-KSM dipekonnya telah melaksanakan kegiatan sesuai arahan, Hilman menampik bila ada pekerjaan yang tidak sesuai arahan Dinas dan tim fasilitator.

“Kami sudah laksanakan peket kegiatan sanitasi berupa 1 unit MCK 4 pintu, jamban 40 rumah dan satu komunal untuk 7 orang, bagi kami tidak ada masalah, karena apa yang kami kerjakan telah sesuai arahan Dinas dan tim lapangannya, kalau ada masalah kami tidak mau jadi korban, kami akan siapkan bukti-bukti, “jelas Hilman.

Selain pekon Gunung Ratu, keadaan serupa juga terjadi pada dua pekon lain yaitu Pekon Banding Agung, Kecamatan suoh dan Pekon Ringin Jaya, Kecamatan BNS, namun hingga berita ini diturunkan kedua peratin (kepala Desa) belum bisa dikonfirmasi secara rinci, ” Sebaiknya nanti konfirmasi kepada KSM yang mengetahui secara detail tentang tekhnis dan administrasinya, ” kata Peratin Banding Agung Tunggono dikediamannya, terpisah jawaban yang juga didapat dari Peratin Ringin Jaya Hendri Yanto. “Kalau untuk melihat langsung dititik lokasi saya bisa antar namun untuk mejawab secara tekhnis dan administrasi akan lebih tepat jika dengan KSM tapi untuk saat ini KSMnya tidak ada masih ada acara di Liwa, ” jelas Hendriyanto.

Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa tahun anggaran 2022, Kabupaten Lampung Barat mendapat alokasi anggaran DAK infrastruktur Bidang Sanitasi sebanyak 4.832.000.000, yang diperuntukkan pada 13 belas pekon, dari jumlah tersebut tertera untuk pekon Gunung Ratu 500.000.000, pekon Banding Agung 360.000.000 dan Pekon Ringin Jaya 360.000.000.

Mencermati data yang ada jika konsisten DAK infrastruktur sanitasi tahun anggaran 2022  seharusnya menggunakan septic tank modern yaitu Bio sptic tank bukan septic tank konvensional seperti yang terjadi dibeberapa titik lokasi yang ada di Lambar, meskipun memiliki fungsi yang sama tentu memiliki harga yang berbeda. (ris/abu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *