PALEMBANG – Selama ini, setiap tetes air bersih di Pondok Pesantren Minhajul Aulia (Mina), Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, seolah memiliki nilai yang jauh lebih mahal dari sekadar kebutuhan sehari-hari. Air yang keluar dari sumur pondok berwarna kecokelatan dan mengandung kadar karat tinggi, membuatnya tak layak digunakan untuk memasak maupun diminum. Akibatnya, pengurus pondok harus membeli air galon hampir setiap hari demi memenuhi kebutuhan para santri.
Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan akhirnya datang melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026. Kamis (16/7/2026), mesin bor mulai bekerja menembus lapisan tanah di lingkungan pondok pesantren. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya awal sebuah proyek. Namun, bagi para santri dan pengurus Pondok Pesantren Minhajul Aulia, suara mesin tersebut menjadi pertanda lahirnya harapan baru.
Pondok pesantren yang baru membuka penerimaan santri pada tahun ini masih merintis langkah. Jumlah santri yang menetap memang baru empat orang, tetapi kebutuhan akan air bersih telah menjadi persoalan mendasar sejak awal berdiri.
Ketua Pengurus Pondok Pesantren Minhajul Aulia, Nur Syafaat, mengaku bantuan pembangunan sumur bor merupakan jawaban atas kebutuhan yang selama ini paling dirasakan.
“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada TNI dan semua pihak yang telah membantu. Pondok pesantren ini baru tahun pertama menerima santri. Selama ini kami memiliki sumur, tetapi airnya tidak layak diminum maupun digunakan untuk memasak,” ujarnya.
Menurut Nur Syafaat, keterbatasan air bersih membuat pengelola pondok harus membeli air galon hampir setiap hari. Kondisi tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi lembaga pendidikan yang masih berada pada tahap awal pengembangan.
“Dengan adanya sumur bor ini, kami tidak perlu lagi membeli air galon setiap hari. Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Air bersih adalah kebutuhan utama yang selama ini kami impikan,” katanya.
Perhatian terhadap Pondok Pesantren Minhajul Aulia tidak berhenti pada penyediaan air bersih. Dalam pelaksanaan TMMD ke-129, akses menuju pondok juga menjadi sasaran pembangunan. Jalan yang sebelumnya masih berupa tanah akan ditingkatkan sehingga lebih mudah dilalui masyarakat maupun para santri, terutama saat musim hujan.
Nur Syafaat mengungkapkan, perhatian terhadap pondok mulai terlihat sejak peninjauan lokasi oleh Wali Kota Palembang Ratu Dewa bersama Kasdim 0418/Palembang pada 15 Juli 2026 untuk menentukan titik pengeboran.
“Hari ini pengerjaan sumur sudah dimulai. Kami sangat bersyukur karena kebutuhan yang selama ini kami rasakan akhirnya mendapat perhatian,” ucapnya.
Sementara itu, Dandim 0418/Palembang sekaligus Dansub Satgas Kolonel Arhanud Erik Novianto,S.sos Arhanud ( Arh ) mengatakan pembangunan sumur bor tersebut merupakan bagian dari komitmen TMMD dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyediaan sarana dasar.
Berdasarkan hasil survei lapangan, sumber air yang selama ini digunakan pondok memiliki kandungan karat cukup tinggi sehingga kurang layak dimanfaatkan, bahkan untuk kebutuhan berwudu.
“Karena itu, kami memprioritaskan pembangunan sumur bor di pondok pesantren ini. Nantinya air bersih dapat digunakan untuk berwudu, memasak, minum, mandi, dan kebutuhan sehari-hari lainnya sehingga aktivitas para santri menjadi lebih nyaman,” jelasnya.
Program TMMD ke-129 di Kelurahan Talang Jambe memang tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik berupa jalan dan drainase. Lebih dari itu, program ini berupaya menjawab kebutuhan-kebutuhan mendasar masyarakat agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan hingga ke lingkungan yang paling membutuhkan.
Bagi Pondok Pesantren Minhajul Aulia, sumur bor yang kini sedang dikerjakan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah sumber kehidupan yang akan menghapus kegelisahan akan air bersih, meringankan beban pengurus, sekaligus menghadirkan kenyamanan bagi para santri dalam belajar dan beribadah.
Kelak, ketika air jernih mengalir dari kedalaman tanah Talang Jambe, yang mengalir bukan hanya kebutuhan hidup. Di dalamnya turut mengalir kepedulian, semangat gotong royong, dan harapan bahwa setiap langkah pembangunan akan selalu menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. (Bro Adi)












