ASDP Percepat Sterilisasi Enam Pelabuhan Demi Layanan Penyeberangan Modern Berstandar Keselamatan Tinggi

LAMPUNG SELATAN11 Dilihat

Jakarta, 17 Juli 2026 – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mempercepat transformasi layanan kepelabuhanan melalui implementasi program sterilisasi pelabuhan sebagai bagian dari upaya membangun sistem penyeberangan yang lebih aman, tertib, modern, dan terintegrasi.

Memasuki pekan ini, ASDP menggelar sosialisasi intensif di Pelabuhan Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk, Kayangan, dan Lembar sebagai tahapan akhir menjelang soft launching implementasi sterilisasi pelabuhan pada Senin, 20 Juli 2026.

Program ini merupakan bagian dari transformasi operasional ASDP untuk memperkuat pengelolaan kawasan pelabuhan sebagai objek vital transportasi nasional. Melalui sistem registrasi digital, Face Recognition (FR), pengendalian akses berbasis zonasi, hingga One Gate System, ASDP menghadirkan tata kelola kawasan yang lebih aman, transparan, dan akuntabel. Transformasi tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan keamanan kawasan pelabuhan, tetapi juga membangun budaya operasional yang disiplin, efisien, dan berorientasi pada keselamatan.

Implementasi ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2021 tentang Zonasi Kawasan Pelabuhan Penyeberangan, serta regulasi terkait pengamanan objek vital transportasi.

Direktur Operasional dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Rio Lasse, mengatakan sterilisasi pelabuhan merupakan fondasi menuju operational excellence yang akan memperkuat keandalan layanan penyeberangan nasional.

“Sterilisasi pelabuhan bukan sekadar pengaturan akses, tetapi transformasi menyeluruh dalam cara kita mengelola operasional. Kami ingin memastikan setiap orang, kendaraan, dan aktivitas di kawasan pelabuhan dapat teridentifikasi, terverifikasi, dan termonitor dengan baik. Dengan pengelolaan akses berbasis digital melalui Face Recognition, zonasi yang jelas, serta One Gate System, kami memperkuat keamanan objek vital sekaligus meningkatkan keandalan operasi dan kualitas pelayanan. Pada akhirnya, pelabuhan yang tertib akan melahirkan operasi yang semakin aman, andal, dan memberikan pengalaman terbaik bagi masyarakat pengguna jasa,” ujar Rio.

Penataan Kawasan Pelabuhan

Sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia, berbagai persiapan di Pelabuhan Merak terus diintensifkan selama dua pekan terakhir. Bersama seluruh pemangku kepentingan, ASDP rutin menggelar patroli gabungan, sosialisasi sterilisasi, serta penataan kawasan pelabuhan guna memastikan hanya pihak yang berkepentingan dapat mengakses area operasional.

Penataan juga dilakukan terhadap pedagang asongan melalui pendataan ulang, pengaturan lokasi berjualan, dan pemberian identitas resmi, disertai penataan kawasan sekitar Masjid Keramat agar lingkungan pelabuhan menjadi lebih tertib, aman, dan representatif. Penerapan One Gate System juga terus dioptimalkan dengan dukungan CCTV, pagar pembatas, rambu, penerangan, dan pos pengawasan sebagai bagian dari penguatan sistem keamanan kawasan pelabuhan.

Sementara di Pelabuhan Bakauheni, ASDP mematangkan kesiapan implementasi melalui koordinasi intensif bersama regulator, aparat keamanan, operator kapal, dan seluruh stakeholder. Persiapan difokuskan pada penyelesaian infrastruktur pendukung, pemasangan media sosialisasi dan rambu sterilisasi, pendataan akses berbasis Face Recognition (FR), penataan jalur kendaraan, serta penguatan sistem pengawasan terintegrasi yang didukung teknologi digital, CCTV, dan vehicle monitoring.

Seluruh langkah tersebut dilakukan untuk memastikan implementasi berjalan efektif, konsisten, serta mampu menghadirkan operasional pelabuhan yang semakin aman, tertib, modern, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menegaskan bahwa sosialisasi menjadi tahapan penting untuk membangun pemahaman bersama sebelum implementasi diberlakukan secara penuh.

“Transformasi sebesar ini hanya dapat berjalan dengan baik apabila seluruh stakeholder memiliki pemahaman dan komitmen yang sama. Sterilisasi pelabuhan bukan untuk membatasi aktivitas masyarakat, melainkan membangun budaya baru yang mengedepankan keselamatan, keamanan, kedisiplinan, dan pelayanan prima. Dengan kolaborasi regulator, operator kapal, aparat keamanan, dan seluruh mitra kerja, kami optimistis implementasi sterilisasi akan menjadi fondasi terciptanya pelabuhan penyeberangan yang semakin modern, efisien, dan berstandar internasional demi mendukung konektivitas nasional,” ujar Windy menandaskan.(*/Yutia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *