Menanti Hujan Tanpa Cemas, Harapan Baru Sumilah Hadir Lewat TMMD ke-129 Palembang

SUMATERA SELATAN102 Dilihat

PALEMBANG – Setiap kali langit mulai menghitam dan rintik hujan jatuh di Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang, hati Sumilah selalu dipenuhi kecemasan. Bukan karena dinginnya cuaca, melainkan karena ia tahu, beberapa saat kemudian air akan kembali menetes dari atap seng rumahnya yang telah lapuk dimakan usia.

Di rumah sederhana yang berdiri di RT 19 RW 05 itu, perempuan lanjut usia yang telah lama ditinggal wafat suaminya menjalani hari-hari bersama seorang anak, menantu, dan tiga cucunya. Bertahun-tahun mereka hidup dalam keterbatasan, menggantungkan kebutuhan keluarga dari penghasilan sang anak yang berjualan mainan di sekolah. Penghasilan yang pas-pasan membuat keinginan memperbaiki rumah hanya menjadi harapan yang terus tertunda.

Setiap musim hujan tiba, keluarga kecil itu harus menghadapi kenyataan yang sama. Air hujan merembes dari berbagai sisi atap, membasahi lantai rumah, sementara barang-barang harus dipindahkan agar tidak rusak. Saat hujan turun lebih deras, genangan air bahkan ikut masuk karena kawasan tempat tinggal mereka kerap terdampak banjir.

Bagi Sumilah, hujan yang bagi sebagian orang membawa kesejukan justru menjadi saat yang paling ia khawatirkan. Ia hanya bisa pasrah melihat tetesan air jatuh dari atap rumah yang tak lagi mampu melindungi keluarganya.

Namun, penantian panjang itu akhirnya menemukan secercah harapan.

Melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan Kodim 0418/Palembang, rumah Sumilah ditetapkan sebagai salah satu sasaran rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Jumat (17/7/2026), sejumlah material bangunan mulai berdatangan ke halaman rumahnya sebagai tanda dimulainya proses perbaikan.

Saat mengetahui rumahnya benar-benar akan dibedah, Sumilah tak mampu menyembunyikan rasa haru. Senyum yang lama tersimpan akhirnya mengembang di wajahnya.

“Awalnya saya didata Pak RT, rumah difoto, lalu diberi tahu kalau ada program bedah rumah. Saya hanya berharap bisa mendapat bantuan. Alhamdulillah, ternyata benar. Senang sekali. Terima kasih banyak sudah membantu memperbaiki rumah kami,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Baginya, bantuan tersebut bukan sekadar mengganti atap atau memperbaiki dinding. Bantuan itu menghadirkan ketenangan yang selama ini hampir tak pernah ia rasakan ketika musim hujan datang.

“Bocornya sudah lama sekali. Kalau hujan deras air masuk ke rumah. Kami juga diberi tahu nanti rumah dicat lagi dan MCK diperbaiki. Alhamdulillah, sekarang kami punya harapan bisa tinggal lebih nyaman,” tuturnya penuh syukur.

Dalam program TMMD ke-129, rumah Sumilah akan mendapatkan penggantian atap, pengecatan ulang dinding, serta perbaikan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK), sehingga keluarganya dapat tinggal di rumah yang lebih layak, sehat, dan aman.

Sementara itu, Dandim 0418/Palembang sekaligus Dansatgas TMMD ke-129, Kolonel Arhanud Erik Novianto, S.Sos., mengatakan rehabilitasi RTLH merupakan salah satu sasaran fisik utama dalam pelaksanaan TMMD tahun ini.

Menurutnya, program tersebut bukan sekadar membangun rumah, tetapi juga menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kami ingin seluruh rangkaian Program TMMD ke-129 berjalan lancar. Rehabilitasi rumah tidak layak huni harus selesai tepat waktu sehingga masyarakat dapat segera merasakan manfaatnya,” kata Erik.

Ia menambahkan, TMMD merupakan wujud nyata sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Bagi Sumilah, tumpukan semen, kayu, seng, dan material bangunan yang kini memenuhi halaman rumahnya bukan sekadar bahan konstruksi. Material itu adalah simbol harapan baru setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan.

Ia kini menatap musim hujan berikutnya dengan perasaan yang berbeda. Tak lagi dipenuhi kecemasan akan tetesan air dari atap yang bocor, melainkan dengan keyakinan bahwa rumah sederhana yang selama ini menjadi saksi perjuangan keluarganya akan kembali menjadi tempat yang aman, nyaman, dan layak untuk dihuni.

Di balik setiap material yang tersusun di halaman rumahnya, tersimpan doa dan rasa syukur seorang ibu yang akhirnya dapat menyambut hujan tanpa lagi dihantui rasa cemas. (Bro Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *