PALEMBANG – Pagi baru saja menghangat ketika bunyi hentakan kayu gelam memecah sunyi di kawasan Jalan Rawa Jaya, RT 10 RW 03, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami. Di hamparan rawa yang selama bertahun-tahun menjadi penghalang mobilitas warga, puluhan prajurit TNI berdiri dengan kaki yang tenggelam dalam lumpur. Tangan mereka bekerja tanpa henti, menancapkan batang demi batang kayu gelam ke dasar tanah yang lunak.
Tidak ada sorak-sorai. Yang terdengar hanya irama pukulan, suara lumpur yang terbelah, dan semangat gotong royong yang menyatu dengan alam. Di tempat inilah sebuah perubahan perlahan sedang disusun, dimulai dari fondasi yang nyaris tak terlihat oleh mata.
Bagi masyarakat Talang Jambe, pembangunan jalan bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah jawaban atas penantian panjang. Jalan yang selama ini berubah menjadi kubangan setiap musim hujan perlahan dipersiapkan menjadi akses yang layak, menghubungkan kehidupan, membuka peluang, dan menghadirkan harapan baru.
Memasuki hari kedelapan pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Kodim 0418/Palembang, pembangunan Jalan Rawa Jaya terus bergerak sesuai tahapan. Sebelum badan jalan dapat dibentuk, tanah rawa harus lebih dahulu diperkuat melalui pemasangan cerucuk kayu gelam, sebuah pekerjaan yang menjadi penentu kekuatan konstruksi di masa depan.
Di lokasi pekerjaan, sebanyak 12 personel Satgas TMMD bahu-membahu bersama empat warga setempat. Mereka bekerja dalam irama yang sama. Sebagian mengangkat batang gelam, sebagian lainnya mengarahkan posisi kayu agar tertanam presisi, sementara rekan yang lain memastikan setiap cerucuk masuk cukup dalam untuk menopang konstruksi jalan.
Tak ada pekerjaan yang ringan di atas tanah rawa. Lumpur menempel hingga lutut, matahari perlahan meninggi, dan peluh bercampur tanah menjadi pemandangan yang lumrah. Namun tak satu pun wajah memperlihatkan keluh kesah. Sesekali tawa kecil terdengar di sela pekerjaan, menjadi penanda bahwa kebersamaan mampu mengalahkan rasa lelah.
Di tengah aktivitas itu, Komandan Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., datang meninjau langsung perkembangan pembangunan pada Rabu (22/7/2026). Ia berjalan menyusuri lintasan berlumpur, mengamati setiap tahapan pekerjaan dengan saksama, memastikan fondasi jalan dikerjakan sesuai standar yang telah direncanakan.
Baginya, pembangunan jalan di kawasan rawa menuntut ketelitian yang tidak bisa ditawar. Apa yang dikerjakan hari ini akan menentukan kualitas jalan yang akan digunakan masyarakat selama bertahun-tahun ke depan.
“Pada sasaran satu pembangunan Jalan Rawa Jaya, saat ini masih dilakukan pemasangan cerucuk gelam. Kami berharap pekerjaan ini segera selesai sehingga tahapan pembangunan berikutnya dapat dipercepat,” ujar Kolonel Erik.
Jalan sepanjang kurang lebih 750 meter itu memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat. Kelak, jalur tersebut akan menghubungkan RT 10 dengan RT 04, RT 03, dan RT 23, sekaligus menjadi akses menuju Jalan Mataram serta Jalan Sugih Waras.
Selama ini, setiap kali hujan turun, jalan tanah berubah menjadi lintasan licin yang sulit dilalui. Anak-anak harus berhati-hati menuju sekolah. Warga yang hendak bekerja sering dipaksa mencari jalur alternatif. Kendaraan roda dua bahkan roda empat pun tak jarang kesulitan melintas.
Karena itulah, pembangunan jalan ini tidak hanya dipandang sebagai pembangunan infrastruktur. Ia membawa dampak yang jauh lebih luas. Jalan yang baik akan mempercepat mobilitas, memperlancar distribusi, membuka akses ekonomi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan keterbatasan.
Namun, ada nilai lain yang tumbuh di balik pekerjaan tersebut. TMMD kembali memperlihatkan bahwa pembangunan terbaik lahir dari kolaborasi. Di atas hamparan lumpur itu, prajurit dan warga bekerja tanpa sekat. Tidak ada perbedaan seragam ataupun profesi. Yang ada hanyalah tujuan yang sama: menghadirkan perubahan bagi lingkungan mereka sendiri.
Semangat gotong royong itulah yang menjadi ruh Program TMMD selama puluhan tahun. Ketika masyarakat ikut terlibat sejak awal pembangunan, maka yang tumbuh bukan hanya sebuah jalan, melainkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga hasil pembangunan tersebut.
Kolonel Erik menegaskan bahwa keberhasilan TMMD tidak semata diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari tumbuhnya kebersamaan antara TNI dan masyarakat dalam mewujudkan kepentingan bersama.
Pembangunan Jalan Rawa Jaya masih akan memasuki tahapan berikutnya setelah seluruh pemasangan cerucuk gelam selesai. Satgas TMMD optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target sehingga manfaatnya segera dirasakan oleh masyarakat Talang Jambe.
Di atas tanah rawa yang dahulu hanya menyimpan genangan air dan jejak lumpur, kini mulai tumbuh harapan baru. Harapan agar anak-anak dapat berangkat ke sekolah tanpa takut terpeleset. Harapan agar roda ekonomi bergerak lebih cepat. Harapan agar perjalanan yang dulu melelahkan berubah menjadi lebih mudah.
Sementara bagi para prajurit Satgas TMMD, setiap batang gelam yang berhasil ditancapkan bukan sekadar bagian dari pembangunan konstruksi. Ia adalah penanda bahwa pengabdian selalu dimulai dari pekerjaan yang paling mendasar. Sebab terkadang, masa depan sebuah kampung tidak dibangun dari sesuatu yang megah, melainkan dari fondasi yang kokoh, dikerjakan dengan ketulusan, dan ditopang oleh semangat kebersamaan. (Bro Adi)












