PALEMBANG – Ketegangan sempat mewarnai aksi Aliansi Cipayung Group yang menyuarakan penolakan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di depan Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Jumat (14/8/2026).
Situasi yang sempat memanas antara mahasiswa dan aparat kepolisian akhirnya berhasil diredam setelah Kabag Ops Polrestabes Palembang AKBP Budi Santoso, S.Sos., turun langsung menemui massa aksi.
Aksi mahasiswa tersebut digelar sebagai bentuk kritik dan kepedulian terhadap persoalan Karhutla yang dinilai masih menjadi perhatian serius di Sumatera Selatan.
Ketegangan mulai terjadi ketika massa aksi membakar ban bekas sebagai simbol protes. Kondisi tersebut kemudian memicu aksi saling dorong antara sebagian mahasiswa dan personel kepolisian yang melakukan pengamanan.
Situasi bahkan sempat meningkat dan berpotensi menimbulkan benturan lebih besar.
Melihat kondisi tersebut, AKBP Budi memilih mengambil langkah langsung. Ia maju ke tengah situasi dan berkomunikasi dengan massa aksi maupun personel yang berada di lapangan.
Alih-alih menggunakan pendekatan represif, perwira tersebut berupaya menurunkan tensi melalui komunikasi terbuka dan sikap tenang.
Di hadapan mahasiswa, AKBP Budi juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam proses pengamanan terjadi kesalahpahaman antara petugas dan massa aksi.
“Saya pimpinan mereka. Mereka bertugas atas perintah saya. Atas nama pimpinan, saya mohon maaf,” ujar AKBP Budi di hadapan massa aksi.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pimpinan pengamanan di lapangan.
Langkah tersebut perlahan membuat suasana berubah. Personel kepolisian yang sebelumnya berada dalam situasi tegang kembali menahan diri. Massa mahasiswa pun mulai meredakan emosi.
Komunikasi antara kedua pihak kemudian berlangsung lebih terbuka hingga situasi berangsur kondusif.
Pendekatan yang dilakukan AKBP Budi memperlihatkan bahwa pengamanan aksi penyampaian pendapat tidak hanya membutuhkan kesiapan personel, tetapi juga kemampuan membaca situasi dan mengendalikan emosi.
Keberanian seorang pimpinan untuk turun langsung mengambil tanggung jawab ketika terjadi ketegangan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah situasi berkembang menjadi konflik.
Dalam konteks pengamanan demonstrasi, ketegasan dan pendekatan humanis bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Aparat tetap menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban, sementara mahasiswa diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi secara aman.
Aksi Cipayung Group tersebut menjadi bagian dari ruang demokrasi masyarakat untuk menyampaikan kritik terhadap persoalan lingkungan, khususnya Karhutla di Sumatera Selatan.
Di sisi lain, kepolisian memiliki tanggung jawab memastikan penyampaian aspirasi berlangsung tertib serta tidak berkembang menjadi benturan yang dapat merugikan kedua belah pihak.
Sikap AKBP Budi yang memilih berada di garis depan untuk menenangkan situasi menjadi catatan tersendiri dalam pengamanan aksi tersebut. Dalam kondisi penuh tekanan, komunikasi yang tenang justru mampu membuka ruang dialog dan mengurangi potensi konflik.
Hingga aksi berakhir, situasi di sekitar Kantor Gubernur Sumatera Selatan kembali aman dan terkendali. Mahasiswa tetap dapat menyampaikan aspirasi, sementara aparat kepolisian melanjutkan tugas menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. (Bro Adi)
Kabag Ops Polrestabes Palembang Redam Ketegangan Aksi Cipayung dengan Pendekatan Humanis






