TULANG BAWANG BARAT – Melihat bencana banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) menjadi Pekerjaan Rumah (PR) untuk Bupati terpilih atau pemerintah setempat.
Pasalnya, acap kali banjir merendam pemukiman warga, persawahan dan perkebunan. Disebabkan tersumbatnya selokan drainase oleh tumpukan sampah, serta aliran sungai yang semakin menyempit dan dangkal. Tentunya ini menjadi PR pemerintah yang harus diselesaikan.
Sebab ini sudah menjadi bencana musiman, dikarenakan setiap memasuki musim penghujan banjir terjadi pada waktu yang relatif sama setiap tahun. Lokasi dan wilayahnya pun serupa, banjir selalu terjadi di daerah yang kondisi lingkungannya rusak. Namun, hingga kini belum ada upaya mitigasi serius dari pemkab tubaba.
Setidaknya ada enam titik wilayah yang acap kali terebdam banjir, tentu ini harus ada kesadaran dari masyarakatnya juga untuk dapat menjaga aliran drainase dan aliran sungai sehingga tidak ada tumpukan sampah yang dapat menyebabkan air meluap.
Enam wilayah tersebut yaitu, Sungai Tulung Ketibung, Way Tuni, Way Gemol, Kali Macan, Kali Miring dan bahkan Sungai Way Raram. Tentunya pemkab Tubaba tidak dapat tinggal diam, harus menyikapi dengan lakukan tindakan. Sehingga titik-titik wilayah sungai tersebut dilakukan upaya normalisasi atau naturalisasi, agar dapat meminimalisir banjir yang acap kali terjadi setiap memasuki musim penghujan.
Upaya pemkab Tubaba bukan tidak ada, dalam menanggulangi banjir yang kerap kali terjadi namun apa yang dilakukan pemkab selama ini, kurang maksimal. Terkesan menyikapi banjir yang terjadi selama ini dianggap hal biasa, seharusnya pemkab Tubaba memprioritaskan dalam menanggulangi banjir.
Akibat banjir tersebut, menimbulkan banyak kerugian masyarakat baik secara materil dan no-materil, semua aktivitas masyarakat lumpuh total dikarenakan air yang menggenang di pemukiman warga dan di perkebunan masyarakat bahkan di jalan protokol.
Genangan air juga terjadi di kantor pemkab setempat, tepatnya di jalan menuju gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), apalagi gedung ini merupakan wakil rakyat yang terhormat. Sangat disayangkan, genangan air itu menutupi akses jalan menuju gedung dewan terhormat tersebut.
Dikatakan Kabid Pengairan, Sumardi pihaknya sudah, melakukan normalisasi sungai seperti di way tuni. Namun masih belum maksimal makanya airnya masih meluap tidak tertampung oleh aliran sungai yang telah kita lakukan normalisasi, karena sungai way tuni itu memiliki panjang sekitar tujuh kilometer lebih. Sedangkan yang dinormalisasi kan saat ini hanya 1,6 kilometer, tentunya sangat kurang dari maksimal.
“Kita sudah mengantisipasi dengan kita lakukan normalisasi sungai way tuni itu kemarin, namun dikarenakan yang kita kerjakan hanya sebatas kemampuan kami ya mau gimana lagi, tentu airnya masih meluap,”kata dia
Sama halnya seperti di way gemol, sudah dilakukan normalisasi tetapi masih kurang maksimal sehingga air masih meluap. Karena aliran sungai tersebut belum rampung di normalisasi semua dari hulu sampai hilir nya.
“Kita sudah berbuat namun apa lah saya, alam berkat lain. Karena bencana alam ini tidak dapat dihindari namun kita hanya dapat berupaya agar tidak semakin parah akibat yang dimunculkan oleh bencana tersebut,”singkatnya (*/Hol)











