H. Musa: Enam Tahun Warga Bergotong Royong Bangun Masjid Al-Kautsar, Kini Diresmikan Herman Deru

SUMATERA SELATAN108 Dilihat

Palembang – Perjuangan panjang masyarakat membangun Masjid Al-Kautsar di kawasan Sukawinatan, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang, akhirnya membuahkan hasil. Setelah enam tahun dibangun secara swadaya melalui semangat gotong royong warga, masjid tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru usai melaksanakan Salat Jumat bersama jamaah, Jumat (24/7/2026).

Ketua Masjid Al-Kautsar, H. Musa bin H. Munir, mengungkapkan rasa syukur dan harunya atas kehadiran Gubernur Sumsel yang turut memberikan perhatian terhadap penyelesaian pembangunan masjid.

Menurut H. Musa, sebelum berdiri megah seperti saat ini, Masjid Al-Kautsar hanya berupa musala sederhana yang dibangun secara bertahap dengan mengandalkan swadaya masyarakat.

“Masjid ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat selama enam tahun. Awalnya hanya berbentuk musala. Alhamdulillah hari ini Bapak Gubernur hadir dan memberikan bantuan sehingga sangat meringankan beban pengurus untuk menyelesaikan kewajiban kami,” ujar H. Musa.

Ia menjelaskan, meski bangunan utama telah berdiri, pembangunan masjid masih menyisakan utang kepada toko bangunan dan belum memiliki menara sebagai pelengkap. Kondisi tersebut kemudian disampaikan kepada Gubernur Herman Deru saat peresmian.

Mendengar hal itu, Herman Deru langsung memberikan bantuan pribadi sebesar Rp15 juta serta mengajak para tamu undangan untuk ikut berpartisipasi membantu penyelesaian pembangunan masjid.

“Dari saya Rp15 juta, Pak Dirut Rp5 juta, BAZNAS Rp5 juta,” ucap Herman Deru, yang kemudian disambut antusias para undangan.

Ajakan tersebut mendapat respons positif. Satu per satu tamu yang hadir menyatakan kesediaannya berdonasi hingga bantuan yang terkumpul mencapai sekitar Rp70 juta. Dana tersebut diharapkan dapat membantu pengurus melunasi kewajiban pembangunan sekaligus melanjutkan penyelesaian fasilitas masjid.

Dalam sambutannya, Herman Deru juga mengingatkan bahwa kemegahan sebuah masjid tidak hanya diukur dari ukuran bangunan, tetapi dari ramainya jamaah yang memakmurkannya.

“Saya senang sekali tadi bisa salat bersama di sini. Ada masjid yang besar dan mewah, tetapi isinya hanya dua saf. Ada juga yang proporsional. Nah, Masjid Al-Kautsar ini termasuk yang proporsional,” ujarnya.

Ia menambahkan, membangun rumah ibadah bukan hanya menyelesaikan pekerjaan fisik, tetapi juga mengandung tanggung jawab moral dan spiritual untuk terus memakmurkannya dengan berbagai kegiatan keagamaan.

Peresmian Masjid Al-Kautsar menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang pembangunan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Di balik bangunan yang kini berdiri kokoh, tersimpan semangat kebersamaan, keikhlasan para warga, serta harapan agar masjid ini terus menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan umat bagi masyarakat Sukawinatan dan sekitarnya. (Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *