Bertahun-tahun Menunggu, Jalan Rawa Jaya Akhirnya Keluar dari Lumpur

SUMATERA SELATAN130 Dilihat

PALEMBANG – Buya Dr. Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H., masih mengingat bagaimana sulitnya menuju Pondok Pesantren Minhajul Aulia ketika hujan mengguyur kawasan Talang Jambe.

Jalan tanah liat sepanjang sekitar 750 meter di Jalan Rawa Jaya, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang, seolah berubah menjadi medan yang berbeda. Tanah menjadi lembek, genangan muncul, sementara roda kendaraan kesulitan mendapatkan pijakan.

Sepeda motor bahkan tak jarang harus berhenti.

“Jalan ini kondisinya sangat sulit dilalui kendaraan, terutama jika musim penghujan. Sepeda motor saja tidak bisa jalan karena tanah liat dan sering becek, bahkan tergenang air kalau hujan,” ujar Kiai Malik saat ditemui wartawan Inisiator.id di Gazebo Pondok Pesantren Minhajul Aulia.

Bagi pengelola pesantren, persoalan tersebut bukan hanya soal kenyamanan perjalanan.

Jalan Rawa Jaya merupakan salah satu akses penting menuju Pondok Pesantren Minhajul Aulia. Mobilitas santri, masyarakat dan kendaraan pengangkut kebutuhan pesantren ikut bergantung pada kondisi jalan tersebut.

Karena itu, keinginan agar jalan diperbaiki telah lama menjadi harapan.

Menurut Kiai Malik, harapan itu kemudian mendapatkan titik terang setelah dirinya bertemu Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., pada 2025.

“Beliau memberikan angin segar dengan memasukkan jalan ini menjadi sasaran fisik TMMD ke-129 Kodim 0418 tahun 2026,” katanya.

Setahun kemudian, harapan itu mulai terlihat secara nyata.

Jalan Rawa Jaya masuk sebagai salah satu sasaran fisik TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang. Prajurit TNI bersama masyarakat turun langsung mengubah jalan yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan tersebut.

Pembangunan diawali dengan pemasangan cerucuk di kedua sisi bahu jalan. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat struktur badan jalan sekaligus membantu mencegah bahu jalan mudah tergerus air.

Material agregat kemudian ditimbun dan diratakan. Alat berat bekerja memadatkan permukaan hingga badan jalan menjadi lebih kokoh.

Proses itu menghadirkan pemandangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Lumpur yang dahulu menjadi penghalang kini berganti dengan jalan yang lebih keras dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., menegaskan pembangunan tersebut diarahkan untuk menghadirkan manfaat jangka panjang.

“Jalan ini kita kerjakan bukan hanya agar bisa dilalui, tetapi bagaimana hasilnya dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang. Kami berharap akses ini bisa memudahkan aktivitas masyarakat, baik menuju permukiman, pesantren maupun pusat kegiatan ekonomi,” ujarnya.

Erik juga menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pembangunan.

“Semangat gotong royong antara Satgas dan masyarakat menjadi kekuatan utama. Inilah salah satu wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam TMMD,” katanya.

Jalan Rawa Jaya memang hanya membentang sekitar 750 meter.

Namun bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun melewati jalan tersebut, panjang itu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.

Tentang hujan dan lumpur.

Tentang kendaraan yang sulit melintas.

Tentang aktivitas yang tertunda.

Dan tentang harapan yang terus disampaikan.

Kini, jalan itu telah berubah.

Bagi warga, perubahan tersebut bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Jalan yang lebih kokoh berarti perjalanan menuju rumah yang lebih mudah, akses menuju pesantren yang lebih lancar dan kesempatan bagi aktivitas ekonomi untuk bergerak lebih leluasa.

Bertahun-tahun menunggu akhirnya terbayar.

Jalan Rawa Jaya tidak lagi menjadi cerita tentang lumpur setiap kali hujan datang.

Ia kini menjadi cerita tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya. (Bro Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *