PALEMBANG – Ada masa ketika hujan bukan sekadar membawa kesejukan bagi warga di sepanjang Jalan Rawa Jaya, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang.
Hujan juga berarti kekhawatiran.
Sebab, ketika air mulai turun dari langit, jalan tanah liat sepanjang sekitar 750 meter itu perlahan berubah menjadi lintasan lumpur. Genangan muncul di sejumlah titik. Roda sepeda motor kehilangan pijakan. Kendaraan roda empat pun harus ekstra hati-hati untuk melintas.
Bagi warga, kondisi tersebut bukan cerita baru. Bertahun-tahun mereka terbiasa menghadapi akses jalan yang sulit, terutama ketika musim penghujan tiba.
Jalan Rawa Jaya bukan sekadar jalan lingkungan. Akses ini menjadi penghubung sejumlah RT, permukiman warga, kawasan aktivitas ekonomi, hingga Pondok Pesantren Minhajul Aulia.
Karena itu, buruknya kondisi jalan turut memengaruhi aktivitas masyarakat.
Bagi santri dan pengelola pesantren, misalnya, jalan tersebut merupakan akses penting menuju pusat pendidikan keagamaan. Kendaraan pengangkut material pembangunan pun tidak selalu mudah memasuki kawasan pesantren ketika jalan berubah menjadi lumpur.
Namun, pemandangan itu kini mulai menjadi cerita masa lalu.
Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0418/Palembang tahun 2026, Jalan Rawa Jaya menjadi salah satu sasaran pembangunan fisik.
Prajurit TNI bersama masyarakat bergotong royong memperkuat akses tersebut. Pekerjaan diawali dengan pemasangan cerucuk di sisi kiri dan kanan bahu jalan untuk memperkuat struktur badan jalan sekaligus mengurangi risiko bahu jalan tergerus air.
Setelah itu, material agregat digelar untuk memperkeras badan jalan. Alat berat dikerahkan untuk meratakan sekaligus memadatkan permukaan.
Perlahan, wajah Jalan Rawa Jaya berubah.
Jalan yang dahulu membuat pengendara berjibaku dengan lumpur kini lebih kokoh dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Kolonel Arh Erik Novianto, S.Sos., mengatakan pembangunan jalan tersebut diarahkan agar memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Jalan ini kita kerjakan bukan hanya agar bisa dilalui, tetapi bagaimana hasilnya dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang. Kami berharap akses ini bisa memudahkan aktivitas masyarakat, baik menuju permukiman, pesantren maupun pusat kegiatan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Erik, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan fisik, tetapi juga keterlibatan masyarakat.
“Semangat gotong royong antara Satgas dan masyarakat menjadi kekuatan utama. Inilah salah satu wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam TMMD,” katanya.
Perubahan tersebut juga dirasakan Buya Dr. Abdul Malik Syafei, S.H.I., M.H., pengelola Pondok Pesantren Minhajul Aulia.
Ia masih mengingat bagaimana sulitnya melintasi jalan itu ketika hujan.
“Jalan ini kondisinya sangat sulit dilalui kendaraan, terutama jika musim penghujan. Sepeda motor saja tidak bisa jalan karena tanah liat dan sering becek, bahkan tergenang air kalau hujan,” ujar Kiai Malik saat ditemui wartawan Inisiator.id di Gazebo Pondok Pesantren Minhajul Aulia.
Menurutnya, perbaikan Jalan Rawa Jaya bukanlah usulan yang muncul tiba-tiba. Harapan itu telah beberapa kali disampaikan.
Titik terang datang setelah dirinya bertemu Wali Kota Palembang Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., pada 2025.
“Beliau memberikan angin segar dengan memasukkan jalan ini menjadi sasaran fisik TMMD ke-129 Kodim 0418 tahun 2026,” katanya.
Kini, Jalan Rawa Jaya tidak lagi sekadar hamparan tanah yang harus ditaklukkan setiap kali hujan turun.
Di atas jalan yang telah diperkeras itu, warga menemukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar akses transportasi.
Ada kemudahan menuju rumah.
Ada jalan yang lebih nyaman menuju pesantren.
Ada akses yang membuka pergerakan ekonomi.
Dan setelah bertahun-tahun menunggu, harapan itu akhirnya bukan lagi sekadar cerita.
Kini, harapan tersebut memiliki jalan untuk dilalui. (Bro Adi)








