“Saya Mau, Pak” — Kisah Sriyanti Mendapat Rumah Layak Huni dari TMMD ke-129 Palembang

PALEMBANG – “Dan tentu saja saya mau, Pak.”

Jawaban itu keluar spontan dari mulut Sriyanti ketika seorang anggota TNI bernama Iwan menanyakan apakah dirinya bersedia jika gubuk tempat tinggalnya direhab menjadi hunian yang lebih nyaman dan layak.

Bagi Sriyanti, saat itu tidak ada alasan untuk menolak.

Sebab, gubuk reyot yang ditempatinya bersama seorang anak laki-lakinya memang sudah jauh dari kondisi ideal untuk sebuah tempat tinggal.

“Saya masih ingat waktu itu. Pak Iwan bilang, ‘Ibu mau gubuk ibu kami rehab nanti jadi tempat yang lebih nyaman dan layak huni?’” tutur Sriyanti saat ditemui wartawan media Inisiator.id, Minggu (9/8/2026).

Sriyanti pun menjawab bersedia.

Namun, yang membuat kisah itu menyentuh adalah apa yang terjadi setelahnya.

Ucapan tersebut bukan sekadar basa-basi.

Melalui program TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Satgas benar-benar datang dan mengerjakan rehabilitasi tempat tinggal Sriyanti.

Bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai kandang sapi di samping gubuk reyot miliknya kemudian disulap menjadi rumah layak huni.

Perlahan, wajah tempat tinggal perempuan berusia 68 tahun itu berubah.

Janda 68 Tahun yang Tetap Bekerja

Di balik rumah baru tersebut, terdapat kisah panjang perjuangan Sriyanti.

Perempuan asal Semarang itu merupakan perantau yang datang ke Palembang sejak masih belia. Puluhan tahun menjalani kehidupan di tanah rantau membuat Palembang menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Tetapi usia tidak membuat perjuangannya berhenti.

Sriyanti masih bekerja sebagai buruh upah tani. Ia juga menjalankan pekerjaan merawat sapi yang dititipkan kepadanya.

Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, Sriyanti tetap berusaha bertahan.

Gubuk reyot yang selama ini ditempatinya bersama sang anak menjadi tempat berlindung sekaligus saksi perjuangannya menjalani kehidupan.

Karena itu, ketika rumah tersebut direhabilitasi, kebahagiaan Sriyanti bukanlah sesuatu yang mudah disembunyikan.

“Kami sangat berterima kasih dan bersyukur. Alhamdulillah kami mendapat bantuan ini,” katanya.

Rumah Berubah, Lingkungan Ikut Dibersihkan

Pekerjaan Satgas TMMD tidak berhenti setelah bangunan rumah selesai.

Menjelang penutupan TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang, Satgas juga memperhatikan lingkungan tempat tinggal Sriyanti.

Pada H-3 hingga H-1 penutupan TMMD, personel melakukan pembersihan di sekitar rumah. Bekas gubuk Sriyanti dibersihkan dan lingkungan ditata agar menjadi lebih bersih serta nyaman.

Dengan demikian, perubahan yang diterima Sriyanti tidak hanya berupa rumah yang lebih layak, tetapi juga lingkungan tempat tinggal yang lebih tertata.

Dansatgas TMMD ke-129 Kodim 0418/Palembang Kolonel Arh. Erik Novianto, S.Sos. mengatakan, rehabilitasi RTLH merupakan bentuk kepedulian TNI untuk membantu masyarakat meningkatkan kualitas kehidupan.

“Sasaran fisik TMMD berupa rehab RTLH seperti tempat tinggal Ibu Sriyanti ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap masyarakat yang sangat penting untuk dibantu, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama pada hunian yang nyaman dan layak untuk kehidupan mereka,” kata Erik.

Ia menegaskan, TMMD juga menjadi momentum untuk membangun semangat gotong royong dan memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

“TMMD juga dalam rangka membangun semangat gotong royong dengan masyarakat serta kemanunggalan TNI bersama rakyat,” tegasnya.

Kini, Sriyanti memiliki tempat tinggal yang lebih layak.

Tetapi yang paling berharga dari semua itu mungkin bukan hanya bangunan rumahnya.

Melainkan perasaan bahwa dirinya tidak dilupakan.

Di usia 68 tahun, setelah puluhan tahun hidup sebagai perantau dan bekerja dalam keterbatasan, Sriyanti akhirnya mendapatkan sebuah rumah yang dapat membuatnya merasa lebih aman dan nyaman.

Semua bermula dari satu pertanyaan sederhana.

“Ibu mau gubuk ibu kami rehab?”

Dan Sriyanti menjawab, “Tentu saja saya mau.” (bro Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *