BOGOR — Dalam rangka memperkuat komitmen pelestarian keanekaragaman hayati dan perlindungan spesies endemik, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju (Kilang Plaju) secara resmi melanjutkan kolaborasi riset bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Langkah strategis ini ditandai dengan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kilang Plaju dan Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN di Kawasan Sains Teknologi (KST) Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno, Cibinong, Bogor, Selasa (18/8/2026).
Sinergi riset lanjutan untuk periode 2026–2029 ini memfokuskan pengembangan pada teknologi pembenihan berbasis bioinformatika, dengan tujuan akhir melakukan penangkaran intensif serta pendedahan kembali (restocking) Ikan Belida ke habitat aslinya di sepanjang aliran Sungai Musi.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Plaju, Siti Fauzia, menegaskan bahwa perpanjangan kerja sama ini menjadi milestone krusial dalam memperkuat komitmen pelestarian lingkungan yang telah dirintis perusahaan sejak tahun 2018.
“Bagi kami, Sungai Musi bukan sekadar nadi transportasi untuk operasional kilang, tetapi juga rumah alami bagi keanekaragaman hayati yang harus terus dijaga. Upaya penyelamatan ini tidak bisa dilakukan sendirian, sehingga kami mendorong pendekatan konservasi berbasis multipihak yang melibatkan pemerintah, lembaga riset, akademisi, hingga masyarakat. Harapan besar kami, keberadaan Ikan Belida kelak tidak sekadar dikenal melalui ikon patung semata, melainkan hadir secara nyata di alam liar,” ujar Fauzia.
Rekam Jejak & Capaian Inovasi Riset
Memasuki fase baru pasca-penyesuaian nomenklatur ke Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, kolaborasi ini meneruskan kesuksesan riset periode sebelumnya yang telah mengukir deretan pencapaian ilmiah dan kebijakan. Riset bersama ini telah menghasilkan 3 artikel jurnal internasional bereputasi tinggi, 1 jurnal internasional bereputasi menengah, 1 artikel Sinta 1, 2 paten terdaftar, serta penerapan kurikulum cinta Belida di 20 sekolah dan 1 universitas.
Dari sisi teknis, kerja sama ini menemukan teknologi kunci pemijahan semi-buatan dengan hormon GnRH presisi pada sistem Recirculating Aquaculture System (RAS). Hingga kini, riset ini berhasil mengembangbiakkan lebih dari 571 individu dari tiga spesies Ikan Belida (Notopterus notopterus, Chitala lopis, dan Chitala hypselonotus) yang tersebar di BRIN, Jagat Satwa Nusantara, hingga Universitas PGRI Palembang, termasuk mengidentifikasi kembali spesies langka Chitala hypselonotus (Belida asli Palembang) yang sempat menghilang sejak 2015.
Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Delicia Yunita Rahman, mengungkapkan bahwa penguasaan teknologi pemijahan ini menjadi baseline awal untuk mendorong penyesuaian status perlindungan spesies Belida.
“Penelitian sebelumnya bersama Pertamina ini turut membantu KKP dan BRIN dalam assessment stok dan rantai ekonomi Ikan Putak/Belida Jawa (Notopterus notopterus) hingga terbitnya policy brief Kepmen KP No. 83 Tahun 2024. Ke depan, penguasaan teknologi ini ditujukan untuk mendorong penyesuaian status perlindungan Ikan Belida Lopis melalui Kepmen KP No. 66 Tahun 2025 agar kelak dapat dibudidayakan secara aman dan sah oleh masyarakat,” papar Delicia.
Riset Lanjutan: Jawab Tantangan Pembenihan dengan Teknologi OMICS
Menghadapi tantangan pembenihan dan pembesaran di wadah pemeliharaan, tim peneliti BRIN dan Pertamina kini melangkah ke tahap riset lanjutan menggunakan pendekatan teknologi OMICS (genomik, metabolik, dan proteomik). Pendekatan mutakhir ini ditujukan untuk memetakan kebutuhan pakan presisi di setiap fase pertumbuhan serta mengakselerasi laju tumbuh Ikan Belida Lopis.
Berkat konsistensi dan dampak terukur dari program CSR Belida Musi Lestari tersebut, Kilang Plaju sukses merengkuh penghargaan tertinggi PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup berturut-turut pada 2024 dan 2025, serta predikat GOLD pada The 16th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards di Vietnam.
Melalui perpanjangan PKS hingga tahun 2029 ini, Kilang Plaju dan BRIN memandang optimistis bahwa riset berbasis bioinformatika dan OMICS ini akan mempercepat pemulihan ekosistem perairan Sungai Musi sekaligus menjaga warisan keanekaragaman hayati Indonesia. (Bro Adi/083121221919)






