PALEMBANG — Empat puluh empat tahun perjalanan Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) tidak hanya ditandai dengan bertambahnya usia institusi, tetapi juga semakin luasnya jejak lulusan di dunia kerja, termasuk hingga ke mancanegara.
Di tengah tuntutan industri yang semakin kompetitif, Polsri terus mengembangkan pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada keterampilan praktis, pengalaman industri, riset terapan, serta penguasaan kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja global.
Direktur Polsri, Ir. Irawan Rusnadi, M.T., mengatakan arah pengembangan kampus vokasi tersebut kini tidak hanya berorientasi pada kualitas pembelajaran di dalam negeri, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik dan profesional di luar negeri.
Hal itu disampaikan Irawan di sela kegiatan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-44 Polsri di Graha Polsri, Palembang.
Menurutnya, penguatan mutu pendidikan menjadi fondasi penting agar lulusan Polsri mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus memenuhi kebutuhan dunia industri.
“Komitmen ini diwujudkan melalui peningkatan mutu pembelajaran, penguatan penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat, serta perluasan kerja sama strategis di berbagai bidang,” kata Irawan.
Lulusan Didorong Masuk Pasar Kerja Global
Salah satu indikator penguatan daya saing lulusan Polsri terlihat dari semakin terbukanya akses mahasiswa terhadap pendidikan dan dunia kerja internasional.
Sepanjang 2026, sejumlah mahasiswa Polsri mengikuti program pendidikan bersama perguruan tinggi mitra di luar negeri. Program tersebut tidak berhenti pada pengalaman akademik, tetapi juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk langsung memasuki pasar kerja internasional.
Melalui kerja sama dengan Saint John’s University (SJU), Taiwan, misalnya, empat mahasiswa Polsri mengikuti program pendidikan bersama dan seluruhnya disebut langsung diterima bekerja di Taiwan.
Sementara melalui kerja sama dengan Liuzhou Polytechnic University (LZPU), Tiongkok, sebanyak 11 mahasiswa telah menyelesaikan program pendidikan. Dari jumlah tersebut, delapan mahasiswa diterima bekerja di sejumlah perusahaan di China.
Hal serupa terlihat dalam program 3 parties Polsri-LZPU-Liugong. Dari 14 mahasiswa yang mengikuti program tersebut, enam orang langsung memperoleh kesempatan bekerja di Liugong.
Polsri juga mencatat kerja sama dengan Shandong University of Science and Technology (SDUST), Tiongkok. Sebanyak empat mahasiswa mengikuti program tersebut dan salah seorang di antaranya memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan jenjang magister di Tiongkok.
“Keberlanjutan program ini terus ditingkatkan melalui berbagai skema, seperti 3+1, 1+1+1, dan 2+2 di CSU dan SJU Taiwan, serta LZPU dan SDUST di Tiongkok, khususnya bagi mahasiswa Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Sipil,” ungkap Irawan.
Selain pendidikan bersama, kesempatan memperoleh pengalaman kerja di luar negeri juga diperluas melalui program magang.
Pada 2026, sebanyak 57 mahasiswa Polsri mengikuti program magang di Tiongkok dan Taiwan dengan durasi hingga 12 bulan.
Program tersebut menjadi bagian dari strategi Polsri untuk membentuk lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan budaya kerja, teknologi, dan standar industri internasional.
Hampir 12 Ribu Mahasiswa
Penguatan internasionalisasi tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan Polsri sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi besar di Sumatera Selatan.
Saat ini terdapat 11.995 mahasiswa aktif yang mengikuti pendidikan pada 10 jurusan dan 38 program studi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.471 mahasiswa merupakan mahasiswa Diploma III (D3), 6.494 mahasiswa Sarjana Terapan (D4), dan 30 mahasiswa program Magister (S2).
Tidak hanya berpusat di Palembang, Polsri juga memperluas akses pendidikan melalui Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) yang berada di Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Irawan menyebut keberadaan PSDKU merupakan bagian dari komitmen kampus untuk memperluas kesempatan masyarakat daerah memperoleh pendidikan tinggi berbasis vokasi.
“Ini merupakan bentuk nyata komitmen kami untuk memperluas akses pendidikan tinggi terapan bagi masyarakat daerah dan mendukung pemerataan pendidikan,” ujarnya.
Belajar dengan Nuansa Dunia Industri
Upaya mencetak lulusan yang siap bekerja juga dilakukan dengan mendekatkan proses pembelajaran dengan kondisi nyata di lapangan.
Polsri menerapkan pembelajaran berbasis produk dan jasa yang mengacu pada standar industri. Salah satu implementasinya dilakukan melalui konsep teaching factory di Kampus Keramasan.
Melalui model tersebut, mahasiswa ditempatkan dalam suasana pembelajaran yang menyerupai lingkungan kerja sebenarnya.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori dan keterampilan teknis, tetapi juga belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, serta karakter profesional.
“Model teaching factory di Kampus Keramasan menjadi contoh nyata bagaimana proses belajar dilaksanakan dalam lingkungan yang menyerupai dunia kerja. Ini membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis sekaligus karakter profesional yang siap bersaing di era industri modern,” jelas Irawan.
Riset Terapan Jadi Kekuatan
Selain memperkuat pendidikan dan kerja sama industri, Polsri juga mendorong dosen serta mahasiswa menghasilkan riset yang dapat diterapkan secara langsung.
Pada 2026, dosen Polsri berhasil memperoleh 32 judul hibah kompetitif eksternal. Rinciannya terdiri atas 20 judul penelitian dan 12 judul pengabdian kepada masyarakat.
Penguatan kompetensi pendukung juga dilakukan melalui UPA Bahasa Polsri. Sepanjang tahun akademik 2025/2026, sebanyak 124 peserta mendapatkan layanan yang mencakup TOEIC untuk persiapan ke Taiwan, IC3 Digital Literacy, BidiksiBA, serta English Proficiency Test.
Internasionalisasi Polsri juga tercermin dari keberadaan mahasiswa asing. Pada 2026, dua mahasiswa asal Tajikistan berhasil menyelesaikan pendidikan di Polsri. Pada tahun yang sama, kampus tersebut kembali menerima mahasiswa asing baru.
Didukung 610 Dosen
Pengembangan Polsri tidak terlepas dari kekuatan sumber daya manusia di lingkungan kampus.
Hingga 2026, Polsri memiliki 610 dosen dan 174 tenaga kependidikan.
Dari sisi jabatan fungsional, terdapat enam Guru Besar, 94 Lektor Kepala, 173 Lektor, 289 Asisten Ahli, serta 48 dosen yang masih dalam proses pengusulan jabatan fungsional.
“Kekuatan sumber daya manusia ini menjadi fondasi utama dalam membangun budaya akademik yang unggul, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan,” jelasnya.
Jejaring kemitraan juga terus diperluas. Sepanjang 2024 hingga Agustus 2026, Polsri telah membangun 324 kemitraan strategis di dalam negeri.
Kemitraan tersebut mencakup 144 kerja sama dengan dunia usaha, dunia industri dan UMKM, 61 dengan perguruan tinggi, 50 dengan instansi pendidikan, 49 dengan pemerintah dan BUMN, enam dengan asosiasi dan komunitas, serta 14 dengan mitra strategis lainnya.
Untuk kerja sama internasional, Polsri menjalin kolaborasi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan berbagai mitra di Tiongkok, Taiwan, Malaysia, dan Thailand.
“Luasnya jejaring ini menjadi wujud komitmen Polsri dalam memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujar Irawan.
Sampah Jadi Objek Riset
Rangkaian Dies Natalis ke-44 Polsri juga menjadi momentum untuk mengangkat isu lingkungan melalui Orasi Ilmiah yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, MSc., praktisi di bidang teknik sipil dan lingkungan.
Mengangkat tema “Riset Terapan Pengolahan Sampah Padat Menuju Green Campus”, Arief mengajak civitas akademika melihat sampah tidak hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna.
Salah satu yang dipaparkan adalah pengolahan sampah menjadi pupuk kompos yang memenuhi standar SNI.
Selain itu, terdapat pula potensi pemanfaatan limbah popok sekali pakai yang mengandung Super Absorbent Polymer (SAP) sebagai salah satu media tumbuh tanaman hias.
Menurut Arief, pengembangan riset terapan seperti itu penting karena hasil penelitian perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Memasuki usia 44 tahun, Polsri pun menempatkan pendidikan vokasi, riset terapan, kemitraan industri, dan internasionalisasi sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan dunia kerja.
Dengan hampir 12 ribu mahasiswa, ratusan dosen, ratusan kemitraan, serta semakin terbukanya jalur pendidikan dan kerja internasional, Polsri berupaya memastikan lulusannya tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga memiliki kompetensi untuk bersaing di pasar kerja global.
(Bro Adi)







